News Jatim

Hilang Saat Pecah Kericuhan Kanjuruhan, Jenazah Ariel Dikenali Lewat Foto dan Baju yang Dikenakan

Hilang Saat Pecah Kericuhan Kanjuruhan, Jenazah Ariel Dikenali Lewat Foto dan Baju yang Dikenakan
Muhammad Kindi Arrumi Purnama (16), korban tragedi Kanjuruhan asal Besuk, Probolinggo. (Istimewa)

AKURAT.CO, Muhammad Kindi Arrumi Purnama atau biasa disapa Ariel (16), remaja asal Dusun Besuk Tengah, Desa Besuk Kidul, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo, meninggal dunia dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022). Ariel merupakan korban meninggal ketiga asal Kabupaten Probolinggo. 

Subadri, ayah Ariel, mengatakan ia dan keluarganya harus menanti berjam-jam untuk memastikan keberadaan anak sulungnya. Kartu identitas dan ponsel yang hilang menyebabkan keluarga kesulitan untuk mencari.

Setelah terus mencari, Sundari akhirnya menemukan putranya terbujur kaku di kamar mayat Rumah Sakit Saiful Anwar, Malang, sekitar pukul 17.00 WIB, Minggu (2/10). Jenazah Ariel teridentifikasi setelah memastikan foto dan ciri pakaian yang digunakannya terakhir kali.

baca juga:

"Ariel pergi ke Malang dengan temannya sambil menyewa mobil. Saat kejadian itu Ariel sebenarnya sudah bersama temannya dari masa kecil, tapi karena ada gas air mata yang membuat penglihatan menjadi kabur dan sesak nafas, saat itu Ariel terjatuh dari temannya" ujar Subadri, Senin (3/10/2022).

Menurut Subadri, dengan alasan batas waktu pinjam mobil yang terbatas, tujuh teman Ariel pulang tanpa berusaha mencari keberadaan dan nasib Ariel. Kenyataan itu yang membuat Subadri kesal sekaligus sedih, karena salah satu teman yang ikut rombongan adalah teman Ariel sejak kecil.

"Saya pagi-pagi (Minggu) diberitahu ada kejadian kerusuhan di Stadion Kanjuruhan. Rombongan istri berangkat dulu, kemudian saya menyusul. Baru pukul 17.00 WIB, Ariel ditemukan di RSSA sudah tidak ada identitasnya. Padahal dia selalu bawa," ujarnya.

Suara Subadri tercekat saat menceritakan pertemuan terakhir dengan anak sulungnya yang berumur 16 tahun. Terakhir Ariel meminta uang untuk beli mouse laptop seharga Rp 40 ribu. "Tapi saya kasih Rp 100 ribu dan uang itu untuk uang saku ke Malang. Saya diberitahu ibunya," ujarnya.

Subadri mengaku sudah ikhlas dengan kepergian anaknya. "Saya ikhlas, tapi seharusnya jangan sampai hal ini terjadi. Mengingat banyak anak-anak muda seperti Ariel yang jadi korban. Padahal mereka ini generasi penerus bangsa, seharusnya panitia pelaksana bisa menjaga," ujarnya.