News Jatim

Kisah Gedung Harmonie, Dari Tempat Pesta Belanda Jadi Museum Probolinggo

Kota Probolinggo memiliki banyak bangunan peninggalan Belanda. Salah satunya Gedung Harmonie, yang dimanfaatkan jadi museum.

Kisah Gedung Harmonie,  Dari Tempat Pesta Belanda Jadi Museum Probolinggo
Museum Probolinggo yang sebelumnya berbagi tempat dengan Museum Rasulullah. (Ridhowati Saputri )

AKURAT.CO, Kota Probolinggo memiliki banyak bangunan peninggalan Pemerintah Kolonial Belanda. Gedung-gedung bersejarah ini masih bertahan dan dimanfatakan sampai saat. Salah satunya eks Gedung Societeits Gebouw ‘Harmonie’.

Gedung yang berada di Jalan Suroyo 17 ini berdiri pada tahun 1814. Gedung ini dibangun untuk berbagai pesta orang-orang Belanda.

Setelah Indonesia Merdeka, gedung ini dimanfatakan untuk berbagai kegiatan masyarakat. Gedung ini beberapa kali berganti nama sesuai peruntukannya. 

baca juga:

Gedung ini berganti nama mulai Panti Budaya, Graha Binaharja, Museum Probolinggo dan Museum Rasulullah. Setelah Museum Rasulullah ditutup pada awal September lalu, gedung ini kembali dimanfatakan sebagai Museum Probolinggo.

"Dulu gedung ini tempat orang-orang Belanda pesta, dansa-dansa. Tapi setelah kemerdekaan, gedung ini menjadi tempat pertemuan, tempat resepsi pernikahan," ujar Abdul Kamal, Guide Museum Probolinggo, Kamis (22/9/2022).

Abdul Kamal membeberkan pergantian nama dan fungsi gedung tidak mudah dan butuh proses panjang. Ia mencontohkan pergantian nama Gedung Graha Bina Harja menjadi Museum Probolinggo, yang dimulai sejak tahun 2008. 

Kala itu Bappeda, Dinas Pemuda Olahraga, Budaya dan Pariwisata dan BIAS (British Indonesia Artist Society) dari Brighton, Inggris mengajukan proposal pendirian museum kepada Wali Kota saat itu H.M Buchori. Baru pada tanggal 15 Mei 2011, Museum Probolinggo diresmikan secara simbolis oleh Gubernur Jawa Timur. 

"Benda-benda di museum ini menyimpan benda-benda arkeologi, kermologika, filologika, numistika, historika, ethnigrafika dan teknologika. Seperti koleksi numismatika itu uang obligasi jaman belanda, uang-uang kuno," ujarnya. 

Pada Oktober 2020, Museum Rasulullah juga menempati salah satu bagian di gedung ini, berbagi tempat dengan Museum Probolinggo. Sejumlah koleksi Museum Probolinggo sementara dipindahkan ke Museum Dr Saleh dan aset di Kedemangan.

Abdul Kamal menjelaskan bangunan gedung Harmonie ada tiga bagian. Bagian tengah digunakan untuk memamerkan benda-benda bersejarah, serta dua bagian samping di kiri dan kanan ruang utama. 

"Nah di bagian tengah ini dibagi dua untuk kegiatan Museum Rasulullah dan Museum Probolinggo," terangnya. 

Setelah kegiatan Museum Rasulullah resmi ditutup, gedung difungsikan sepenuhnya untuk Museum Probolinggo. Benda-benda Museum Rasulullah yang lebih dari 10 item, mulai dari surban nabi, pedang sampai darah bekam, dikembalikan ke Malaysia.

"Sambil menunggu proses pemindahan barang-barang, museum tetap dibuka untuk umum secara gratis. Masyarakat tetap bisa menikmati pameran benda-benda bersejarah asal Kota Probolinggo. Jam buka mengikuti jam kantor kecuali Senin tutup," terang Kamal.