News Jatim

Kisah Pilu Suporter Arema asal Probolinggo Temukan Jenazah Keponakannya di Rumah Sakit

Kisah Pilu Suporter Arema asal Probolinggo Temukan Jenazah Keponakannya di Rumah Sakit
Korban meninggal dunia dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang, Rizky Dwi Yulianto (angkat jempol). (Ridhowati Saputri )

AKURAT.CO, Rizky Dwi Yulianto (19) warga Dusun Krajan, Desa Maron Wetan, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo meninggal dunia dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang. Paman korban, Heri Sulistyono, mengisahkan saat-saat kericuhan dan bagaimana ia menemukan jenazah keponakannya.

Heri yang merupakan Kades Maron Wetan terlihat masih terguncang. Matanya berkaca-kaca, raut mukanya terlihat sembab. Sesekali ia terlihat menerawang. Heri menyaksikan dengan jelas saat-saat pertandingan sepakbola itu berubah menjadi bencana.

"Saya dan rombongan berenam naik mobil. Kami duduk di tribun utara dekat pintu masuk, sedangkan Rizky berada di tribun selatan," kata Heri saat menceritakan peristiwa kelam kepada AKURAT.CO, Minggu (2/10/2022).

baca juga:

"Stadion Kanjuruhan dipenuhi oleh penonton yang didominasi adalah suporter Arema. Tidak ada suporter dari Persebaya. Stadion full penuh," ujarnya.

Kericuhan terjadi saat pertandingan telah selesai dengan kemenangan Persebaya. Pemain Persebaya digiring masuk ke ruang ganti, sementara pemain Arema tetap berada di tengah lapangan. 

"Melihat personil Arema masih di tengah lapangan, suporter Arema ini pada turun ke tengah lapangan. Mungkin ingin memberikan dukungan untuk timnya, tapi petugas keamanan melihat itu sebagai situasi yang tidak kondusif," ungkap Heri. 

Pada saat itulah aksi lempar terjadi. Kata Heri, kebanyakan yang dilemparkan di dalam stadion adalah botol air minum. Namun polisi melemparkan gas air mata ke tribun penonton.

"Gas air mata akhirnya memenuhi tribun dan membuat suporter sulit bernafas. Waktu saya ke rumah sakit saya lihat orang-orang berbaring di lantai seperti ikan pindang. Wajahnya merah mungkin karena kehabisan oksigen," ujar Heri dengan mata yang berkaca-kaca.

Heri melanjutkan, saat kekacauan terjadi, dia membawa rombongannya ke luar stadion dan mengingatkan mereka agar jangan sampai berpisah. Pada saat itu dia juga teringat Rizky, keponakannya.

"Kakak Rizky lantas menghubungi nomor HP-nya dan diangkat seorang perempuan. Perempuan itu menjelaskan bahwa dia menemukan HP itu jatuh. HP itu lantas diberikan kepada kami, tapi Rizky tidak ketemu," terang Heri.

Heri lantas mendatangi rumah sakit di sekitar Stadion Kanjuruhan. Pemandangan yang dia lihat adalah puluhan orang terbujur kaku di lantai. "Ada yang terluka juga, tapi banyak yang sudah terbujur kaku. Hati ini rasanya was-was mencari Rizky,” ujarnya.

Heri akhirnya menemukan Rizky di rumah sakit ketiga yang didatanginya yaitu Rumah Sakit Hasta Husada di Kota Batu. Pada mulanya dia tidak yakin melihat salah satu sosok jenazah, tapi dia lantas memperhatikan lekat-lekat.

"Waktu melihat bentuk bibirnya akhirnya saya sadar itu Rizky. Waktu itu tepat jam setengah 2 dini hari," katanya lirih.

Heri lantas menghubungi kakaknya yaitu ayah Rizky untuk mengabarkan keadaan putranya. Rizky akhirnya dibawa ke Probolinggo setelah urusan administrasi selesai.

"Dia dimandikan di Probolinggo dan dimakamkan di Desa Maron Wetan. Tadi juga ada pak Kapolres hadir," pungkas Heri.