Jatim

Pemkot Pasuruan Grebek Stunting Tahap II Jangkau Balita Belum Terdata

Syukron Nuaim Hayat | 20 Oktober 2026, 19:21 WIB
Pemkot Pasuruan Grebek Stunting Tahap II Jangkau Balita Belum Terdata
Pemkot Pasuruan Kick-off Grebek Stunting Tahap II jangkau balita belum terdata. - Istimewa.

AKURAT.CO, Wakil Wali Kota Pasuruan, M. Nawawi, membuka kegiatan Kick-off Grebek Stunting Tahap II di Ruang Untung Suropati, Kantor Pemerintah Kota Pasuruan, Selasa (20/10/2026). Kegiatan ini menjadi langkah lanjutan dalam memperkuat upaya percepatan penurunan stunting melalui kolaborasi lintas sektor dan penjangkauan balita yang membutuhkan intervensi gizi.

Dalam arahannya, Nawawi menegaskan pentingnya komitmen seluruh Perangkat Daerah, camat, dan lurah untuk menyukseskan pelaksanaan Grebek Stunting Tahap II.

“Penanganan stunting membutuhkan komitmen dan kerja sama seluruh pihak. Saya berharap seluruh perangkatdaerah, camat, dan lurah dapat berperan aktif menyukseskan Grebek Stunting Tahap II,” tegas Mas Nawawi.

Mas Nawawi juga menyoroti stigma di masyarakat yang menganggap stunting pada anak sebagai sebuah aib. Menurutnya, pandangan tersebut dapat membuat orang tua enggan terbuka mengenai kondisi anak, sehingga berpotensi menghambat penanganan dan pemenuhan kebutuhan gizi.

“Jangan sampai stunting dianggap sebagai aib. Kita harus mengedukasi masyarakat agar orang tua tidak merasa malu atau takut untuk terbuka. Yang terpenting adalah bagaimana anak mendapatkan asupan gizi yang cukup dan penanganan yang dibutuhkan,” ujarnya.

Mas Nawawi menekankan bahwa gerakan Grebek Stunting harus berfokus pada edukasi mengenai pola hidup sehat, pemenuhan gizi, serta upaya mengatasi hambatan sosial dan ekonomi yang dihadapi masyarakat.

Terkait pendataan dan penjangkauan di lapangan, Mas Nawawi mengimbau camat, lurah, RT/RW, dan kader posyandu untuk aktif menjadi agen informasi di wilayah masing-masing. Ia mengingatkan bahwa selain 529 balita sasaran yang telah tercatat, masih ada kemungkinan balita lain yang membutuhkan bantuan tetapi belum terdata atau terjangkau.

“Jangan hanya terpaku pada 529 balita yang sudah masuk data. Kita perlu memastikan apakah masih ada balita lain yang membutuhkan bantuan, tetapi belum terjangkau. Karena itu, peran camat, lurah, RT/RW, dan kader posyandu sangat penting,” jelasnya.

Mas Nawawi juga meminta petugas di lapangan menyesuaikan strategi penjangkauan dengan kondisi masyarakat. Bagi orang tua yang sulit ditemui pada pagi atau siang hari karena bekerja, penjangkauan pada malam hari dapat menjadi alternatif.

“Kalau orang tua bekerja pada pagi atau siang hari sehingga sulit ditemui, penjangkauan bisa dilakukan pada malam hari. Kita harus menyesuaikan dengan kondisi warga agar keluarga yang membutuhkan tetap bisa dijangkau,” tambah Mas Nawawi.

Lebih lanjut, Mas Nawawi menyampaikan bahwa prevalensi stunting di Kota Pasuruan mengalami penurunan dari 9,71 persen menjadi 8,2 persen. Namun, capaian tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan partisipasi masyarakat dalam membawa balita ke posyandu maupun puskesmas.

Pasalnya, cakupan penimbangan balita atau D/S mengalami penurunan dari 76,3 persen pada Februari menjadi 72,3 persen pada Agustus.

“Penurunan prevalensi stunting harus kita pertahankan dan tingkatkan. Namun, kita juga perlu memperhatikan cakupan penimbangan balita yang menurun. Saya meminta camat dan lurah untuk aktif menggerakkan masyarakat agar rutin membawa balitanya ke posyandu maupun puskesmas,” tegasnya.

Melalui pelaksanaan Grebek Stunting Tahap II, Pemerintah Kota Pasuruan berharap koordinasi lintas sektor semakin kuat, pendataan balita lebih menyeluruh, dan keluarga yang membutuhkan intervensi gizi dapat memperoleh pendampingan secara tepat sasaran. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.