Jatim

Sejarah Tarawih Kilat "13 Menit" di Blitar Sudah Berlangsung Sejak Awal Tahun 1900an

Dhani Ramadani | 23 Februari 2026, 04:59 WIB
Sejarah Tarawih Kilat "13 Menit" di Blitar Sudah Berlangsung Sejak Awal Tahun 1900an

AKURAT.CO, Viralnya video salat tarawih kilat yang hanya berdurasi 13 menit berlangsung di Pondok Pesantren Mambaul Hikam (Pondok Mantenan), Udanawu, Blitar, Jawa Timur. Konon, tarawih kilat itu menjadi tradisi yang dilestarikan sejak tahun 1907. Sampai saat ini terpantau ratusan jemaah masih setia mengikuti salat 23 rakaat yang hanya memakan waktu sekitar 13 menit ini.

Fenomena Tarawih kilat sendiri sebenarnya bukan hal baru dan pernah menjadi perbincangan publik pada tahun-tahun sebelumnya. Di beberapa daerah, praktik tersebut diklaim sebagai tradisi untuk memberikan alternatif bagi jemaah yang ingin melaksanakan Tarawih dengan waktu lebih singkat.

Meski demikian, munculnya kembali video tarawih kilat di Blitar pada awal Ramadan tahun ini, kembali memicu perdebatan mengenai batasan kecepatan dalam pelaksanaan salat berjemaah serta pentingnya menjaga rukun dan kekhusyukan dalam beribadah.

Pantauan di lokasi menunjukkan antusiasme jemaah yang tinggi. Area parkir bahkan meluber hingga ke gang-gang sekitar masjid menjelang waktu Isya.

Jemaah laki-laki memadati area utama masjid, sementara jemaah perempuan menempati aula ponpes yang letaknya berdekatan. Kekhusyukan tetap terjaga meskipun salat berlangsung dengan tempo yang sangat cepat.

Pengasuh Ponpes Mambaul Hikam, KH Muhammad Dliya'uddin Azzamzami atau Gus Dliya', menekankan bahwa kecepatan pelaksanaan salat tarawih tidak mengurangi rukun maupun kesunahan. "Ini yang perlu digarisbawahi, tarawih di pondok mantenan ini meskipun cepat tidak mengurangi rukun dan tidak mengurangi kesunahan-kesunahan dalam salat," jelas Gus Dliya'. 

Ia menambahkan, durasi standar salat adalah 13 menit, namun bisa lebih cepat jika imam yang bertugas sedang dalam kondisi prima.

Gus Dliya' juga mengajak umat Muslim untuk meningkatkan ibadah di bulan Ramadan, menjaga kerukunan, menghargai perbedaan, dan mempererat ukhuwah islamiyah. Ia mengakui tidak mengetahui jumlah pasti jemaah yang hadir setiap harinya, namun tradisi ini tetap diminati banyak orang.

Mutiah (50), seorang jemaah asal Sambi, Kediri, mengaku telah lama mengikuti salat tarawih kilat di Ponpes Mambaul Hikam. Ia dan suaminya rutin datang setiap Ramadan karena sudah terbiasa dengan ritme salat yang cepat ini.

"Sudah terbiasa cepat, karena sudah ikut salat di sini sejak lama sekali," ungkap Mutiah.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.