Gugur Gunung Metri Ingatkan Masyarakat Lestarikan Lingkungan Kali Brantas

AKURAT.CO, Perwakilan Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang, Endang, menghadiri event Gugur Gunung Metri Kali Brantas yang merupakan rangkaian Festival Kali Brantas (FKB) II yang dihelat oleh Forum Komunikasi Kelompok Sadar Wisata (Forkom Pokdarwis) Kota Malang. Endang memberikan pesan mengajak semua warga untuk menjaga dan melestarikan lingkungan di sekitar Kali Brantas.
"Gugur Gunung Metri ini membangun kesadaran tentang pentingnya sungai Kali Brantas yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat di sini," kata Endang di kampung Tridi Kesatrian, Malang, pekan lalu.
Acara diawali dengan bersih-bersih lingkungan kampung Tridi Kesatrian dan bantaran kali Brantas yang melibatkan tim kebersihan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang bersama warga sekitar. Berikutnya, suguhan tari-tarian anak-anak kampung Tridi. Dilanjutkan pementasan jaranan dengan arak-arakan jaranan menuju ke pinggir kali Brantas.
Ketua Pokdarwis Kampung Tridi Kesatrian, Adnan mengatakan, semua peralatan jaranan dibawa ke sungai untuk dibersihkan di kali Brantas.
"Alat-alat ini kita cuci di kali Brantas sebagai simbol mensucikan diri agar menyatu dengan alam. Jadi, istilahnya ngguyang jaran," kata Adnan.
Ketua Forkom Pokdarwis Kota Malang, Isa Wahyudi mengatakan, usai arak-arakan para pemain jaranan duduk di tepian sungai mengikuti ujub dan umbul doa dilengkapi dengan sesajen. Umbul doa dipimpin oleh Ki Demang sapaan akrab Isa Wahyudi.
"Doa kita panjatkan di tepian kali Brantas sebagai penanda bahwa kita minta keselamatan dan keberkahan Tuhan Yang Maha Kuasa untuk masyarakat di tepian kali Brantas. Selain itu mengajak untuk memetri atau melestarikan lingkungan kali Brantas," ujar Ki Demang.
Usai umbul doa, dilanjutkan dengan upacara guyang jaran Kali Brantas, yaitu memandikan alat-alat kesenian jaranan bersama dengan pemain jaranan.
"Memetri Kali Brantas itu upaya melestarikan keseniannya juga, karena kesejatian Kali Brantas yang pernah menjadi pusat peradaban masa Kanjuruhan, Singhasari dan Majapahit telah melahirkan ragam macam seni budaya," terangnya.
Tampak dalam acara itu, pihak Disporapar, DLH, BPBD, Diskominfo, Lurah Kesatrian, pengurus Pokdarwis Kota Malang, dan para wisatawan asing.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Mengerikan! 7 Pemotor Tewas Kecelakaan di Pasuruan Selama 12 Jam
- 2Kawasan PKL Sultan Agung Kota Pasuruan akan Dijadikan Sentra Kuliner Halal Inklusif
- 3Timnas PUBG MOBILE Indonesia Target Medali di Asian Games 2026 Aichi-Nagoya, Jepang.
- 4Walkot Pasuruan Gowes Tinjau Rusunawa hingga Susur Sungai Petakan Potensi Perairan
- 5Bea Cukai Pasuruan Bakar 6 Juta Batang Rokok Ilegal
- 6DLHKP Pasuruan Intensifkan Perawatan Kawasan Alun-alun
- 7Merebak di Jatim, Dinkes Kota Probolinggo Belum Temukan Kasus Influenza A
- 8Satpol PP Kota Pasuruan Amankan Ratusan Miras dan Pasangan Tanpa Identitas Dalam Kos
- 9Dua Pemuda Maling Ayam Terekam CCTV di Pasuruan
- 10Besok, Pendakian Gunung Arjuno-Welirang Kembali Dibuka





