Pesan Terakhir Sefril, Atlet Panjat Tebing Korban Kebakaran di Bromo

AKURAT.CO, Salah satu korban meninggal dunia saat memadamkan kebakaran di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) adalah Sefril Ardiansyah. Sefril merupakan atlet panjat tebing berusia 19 tahun warga Perumahan Yunayuni, Jalan Serayu, Kelurahan Jrebeng Kulon, Kota Probolinggo.
Sefril sehari-hari bekerja di Artotel Bromo. Ayah Sefril, Lutfy Zulkifli, mengatakan Sefril merupakan teknisi engineering di Artotel.
Lutfy mengatakan Sefril pulang setiap pekan. Namun sebelum kabar kematiannya datang, Sefril sempat mengirimkan sebuah video dari kawasan Bromo. Ia memberi tahu bahwa dirinya sedang memantau kebakaran sekaligus berpamitan karena tak bisa pulang seperti biasanya. Tak ada yang menyangka, pemberitahuan singkat itu menjadi salah satu kenangan terakhir yang ditinggalkannya.
“Waktu mengirim video itu, dia bilang sedang memantau kebakaran. Dia juga berpamitan dan menyampaikan bahwa dirinya tidak akan pulang, padahal biasanya setiap Jumat mesti pulang,” kata Lutfy, Jumat (16/10/2026).
Lutfy mengaku sangat terpukul. Menurutnya di usia yang baru menginjak 19 tahun, Sefril masih memiliki begitu banyak kesempatan untuk menata masa depan. Ia bukan hanya anak yang dirindukan keluarganya, melainkan juga atlet muda panjat tebing dengan sederet prestasi dan harapan yang belum sempat terwujud.
Di arena panjat tebing, Sefril telah membuktikan kemampuannya dengan meraih medali perak Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur pada 2023 dan 2025. Prestasi itu membuatnya menjadi salah satu atlet yang diperhitungkan dalam pembinaan FPTI Kota Probolinggo.
Namun, di luar prestasinya, ada sisi lain Sefril yang membuat kepergiannya begitu membekas bagi orang-orang terdekat. Pelatih FPTI Kota Probolinggo, Iwan Rosyidi, mengenang Sefril sebagai pemuda sederhana, berperilaku baik, dan dekat dengan atlet-atlet junior. Anak-anak yang berlatih bersamanya bahkan menganggapnya seperti kakak sendiri.
"Sefril juga dikenal rajin beribadah. Almarhum sering menjadi imam salat karena bacaan Al-Qur’annya bagus. Banyak atlet anak-anak yang menyukainya dan menganggapnya seperti kakak sendiri,” ujar Iwan.
Bagi Iwan, kepergian Sefril bukan sekadar kehilangan seorang atlet. Ia merasa kehilangan anggota keluarga yang selama ini tumbuh bersama dalam dunia olahraga.
Kesedihan itu terasa semakin dalam ketika mengingat masa depan Sefril yang sebenarnya masih terbentang luas. Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah menengah kejuruan pada 2026, ia mendapat kesempatan melanjutkan kuliah melalui jalur golden ticket di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Namun, kesempatan itu tak diambilnya. Sefril memilih bekerja di sebuah hotel di kawasan Bromo. Pilihan hidup tersebut membawanya berada di kawasan pegunungan yang kemudian menjadi lokasi terakhirnya membantu penanganan kebakaran.
Jenazah Sefril dimakamkan di Kota Probolinggo, Jumat (16/10/2026).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Terpopuler
- 1Pemotor 20 Tahun Tewas Kecelakaan Beruntun dengan Dua Truk di Sukorejo Pasuruan
- 2Hutan Kawasan Gunung Arjuno-Welirang Kembali Terbakar
- 3136 Burung Sitaan dari Pasar Gelap Dilepasliarkan di Hutan Tretes Pasuruan
- 4Tiga Petugas Gugur Saat Padamkan Kebakaran di Bromo
- 5Misbakhun Minta Kader Golkar Kota Pasuruan Jaga Amanah Rakyat
- 6Ditinggal Semenit, Motor Kurir Ekspedisi dan Puluhan Paket Dicuri Maling di Grati Pasuruan
- 7Petugas Pemadam Karhutla Bromo yang Gugur Bertambah Jadi 4 Orang
- 8Perempuan Bobol Kios-kios di Pasar Prigen Pasuruan, Curi Jagung dan Kacang Hijau
- 9Parkir Non-tunai Segera Berlaku di Kota Pasuruan
- 10Warga Apresiasi Puluhan Kantor Kelurahan di Kota Pasuruan Buka Malam Hari




