Jatim

Dari Kicau Perkutut Membaca Wajah Masyarakat Indonesia

Syukron Nuaim Hayat | 2 November 2026, 22:18 WIB
Dari Kicau Perkutut Membaca Wajah Masyarakat Indonesia
Adi Harnowo. - Istimewa.

Ada sesuatu yang menarik dari kehidupan para pecinta burung perkutut. Di tengah masyarakat yang semakin sibuk dengan urusan pekerjaan, persaingan ekonomi, hiruk-pikuk politik, dan penetrasi teknologi digital, sekelompok orang justru menemukan kebahagiaan melalui suara anggungan seekor burung.

Mereka berkumpul, berbincang, bertukar pengalaman, merawat burung, mengikuti kontes, bahkan membangun persaudaraan yang melampaui batas pekerjaan, status sosial, dan latar belakang ekonomi. Mereka dikenal sebagai Kung Mania.

Bagi orang awam, Kung Mania mungkin hanya sekumpulan orang yang memiliki kegemaran memelihara dan menikmati suara burung perkutut. Namun, jika dilihat lebih jauh komunitas ini menyimpan fenomena sosial yang menarik. Ada identitas, solidaritas, kebudayaan, pertukaran ekonomi, bahkan konstruksi simbolik yang tumbuh di dalamnya.

Perkutut bukan sekadar burung. Dalam kebudayaan Jawa, ia memiliki sejarah panjang sebagai bagian dari simbol kehidupan, ketenteraman, kewibawaan, dan filosofi tentang manusia. Karena itu, keberadaan Kung Mania sesungguhnya dapat dibaca sebagai salah satu ekspresi masyarakat dalam mempertahankan hubungan dengan tradisi di tengah perubahan zaman.

Dalam sosiologi, manusia dikenal sebagai makhluk sosial yang membutuhkan ruang untuk berinteraksi, membangun hubungan, dan memperoleh pengakuan dari lingkungan sekitarnya.

Pemikiran sosiolog Jerman, Ferdinand Tönnies, mengenalkan konsep Gemeinschaft dan Gesellschaft. Gemeinschaft menggambarkan kehidupan komunitas yang dibangun atas dasar kedekatan emosional, ikatan kekeluargaan, tradisi, dan rasa memiliki.

Sementara Gesellschaft lebih menggambarkan hubungan sosial modern yang cenderung rasional, formal, dan berorientasi pada kepentingan.

Menariknya, komunitas Kung Mania memperlihatkan bagaimana kedua bentuk hubungan tersebut dapat hidup berdampingan. Di satu sisi, mereka membangun persaudaraan melalui kesamaan kegemaran.

Tidak selalu penting apakah seseorang berprofesi sebagai pengusaha, petani, pedagang, wartawan, pegawai, pejabat, atau pekerja informal. Ketika berada di lingkungan komunitas, perkutut menjadi titik temu yang menyatukan mereka.

Di sisi lain, komunitas ini juga berkembang melalui hubungan ekonomi yang semakin modern. Ada transaksi jual beli burung, sangkar, pakan, aksesori, jasa perawatan, hingga penyelenggaraan lomba dan kontes. Artinya, hobi telah berkembang menjadi ruang sosial sekaligus ruang ekonomi.

Fenomena ini sesungguhnya tidak hanya terjadi pada Kung Mania. Komunitas penghobi burung kicau, pecinta ikan hias, penggemar vespa, komunitas sepeda, hingga kelompok pecinta tanaman memperlihatkan gejala serupa.

Masyarakat modern ternyata tidak sepenuhnya kehilangan kebutuhan untuk berkumpul secara langsung. Justru ketika kehidupan semakin individualistis, komunitas menjadi tempat untuk menemukan kembali rasa kebersamaan.

Di tengah komunikasi digital yang serba cepat, pertemuan di gantangan, halaman rumah, warung kopi, atau tempat penyelenggaraan lomba menjadi pengalaman sosial yang memiliki nilai tersendiri.

Ada percakapan yang tidak bisa digantikan oleh pesan singkat. Ada persaudaraan yang tumbuh karena perjumpaan berulang. Ada kepercayaan yang dibangun bukan melalui algoritma, melainkan melalui interaksi manusia.

Dari perspektif antropologi, perkutut memiliki kedudukan yang menarik dalam kebudayaan masyarakat Jawa. Dalam tradisi Jawa, perkutut dikenal sebagai salah satu bagian dari konsep klangenan, yakni sesuatu yang dipelihara dan dinikmati karena memberikan kesenangan batin. Ia bukan semata-mata objek kepemilikan, tetapi juga bagian dari pengalaman estetika dan filosofi kehidupan.

Suara anggungannya yang khas menghadirkan suasana tenang. Dalam imajinasi kebudayaan Jawa, ketenangan bukan sekadar keadaan tanpa suara, melainkan kemampuan manusia mengendalikan diri, menjaga keseimbangan, dan memahami kehidupan.

Perkutut juga memiliki hubungan dengan simbolisme tradisional. Dalam sejumlah tafsir kebudayaan Jawa, burung ini dikaitkan dengan kewibawaan, keberuntungan, ketenteraman rumah tangga, dan keberkahan hidup.

Tentu saja, pemaknaan tersebut merupakan bagian dari kepercayaan dan tradisi, bukan sesuatu yang harus dipahami sebagai fakta ilmiah. Di sinilah letak menariknya.

Masyarakat modern seringkali dianggap semakin jauh dari akar kebudayaannya. Namun, keberadaan Kung Mania memperlihatkan bahwa tradisi tidak selalu hilang ketika masyarakat mengalami modernisasi. Tradisi justru dapat menemukan bentuk baru melalui komunitas.

Perkutut yang dahulu identik dengan lingkungan keraton, priyayi, atau kalangan tertentu kini dapat dinikmati oleh masyarakat dari berbagai lapisan sosial.

Terjadi proses demokratisasi budaya. Sesuatu yang dahulu mungkin dianggap sebagai simbol status sosial kini berkembang menjadi ruang partisipasi yang lebih terbuka.

Bahkan, generasi muda mulai mengenal kembali perkutut melalui media sosial, konten digital, forum komunitas, dan berbagai kegiatan lomba.

Dengan demikian, Kung Mania bukan hanya komunitas pelestari hobi, tetapi juga salah satu ruang pewarisan kebudayaan.

Tradisi tidak harus selalu dipertahankan dalam bentuk yang sama seperti masa lalu. Ia dapat beradaptasi, bertransformasi, dan menemukan relevansi baru sesuai perkembangan zaman.

Komunitas Medium Ruang Persaudaraan

Ada dimensi lain yang membuat keberadaan komunitas hobi semakin relevan dalam situasi politik Indonesia. Kehidupan politik demokratis memang memberikan ruang bagi perbedaan pilihan, pandangan, dan kepentingan.

Namun, dalam praktiknya, kontestasi politik seringkali meninggalkan persoalan sosial berupa polarisasi, saling curiga, bahkan hubungan antar masyarakat yang merenggang.

Perbedaan pilihan politik terkadang terbawa hingga lingkungan keluarga, pertemanan, dan kehidupan sehari-hari. Dalam situasi seperti ini, komunitas hobi memiliki potensi menjadi ruang sosial alternatif untuk mempertemukan kembali masyarakat.

Kung Mania, misalnya, tidak harus dibangun atas dasar kesamaan pilihan politik. Orang-orang dengan pandangan politik berbeda dapat duduk berdampingan, membicarakan kualitas suara perkutut, mendiskusikan perawatan, atau berbagi pengalaman mengikuti kontes. Perkutut menjadi bahasa bersama yang melampaui perbedaan.

Dalam teori sosiologi, kondisi tersebut berkaitan dengan konsep social capital (modal sosial). Robert D. Putnam menjelaskan bahwa jaringan sosial, kepercayaan, dan norma timbal balik merupakan unsur penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang sehat. Komunitas hobi dapat menjadi tempat tumbuhnya modal sosial tersebut.

Ada dua bentuk modal sosial yang relevan. Pertama, bonding social capital, yakni ikatan yang memperkuat solidaritas di antara orang-orang dalam kelompok yang sama. Kedua, bridging social capital, yaitu hubungan yang menjembatani perbedaan latar belakang dan mempertemukan kelompok-kelompok sosial yang sebelumnya tidak memiliki kedekatan. Kung Mania memiliki peluang membangun keduanya.

Namun, komunitas tidak boleh berhenti pada lingkaran pertemanan sendiri. Ia perlu membuka diri, membangun hubungan lintas komunitas, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang lebih luas. Sebab, demokrasi tidak hanya membutuhkan partai politik, parlemen, dan lembaga negara.

Demokrasi juga membutuhkan masyarakat sipil yang sehat, yang mampu membangun kepercayaan dan menjaga ruang perjumpaan di tengah perbedaan.

Benefit Ekonomi

Jika dilihat dari perspektif ekonomi politik, komunitas perkutut juga memiliki potensi yang tidak kecil. Di balik aktivitas memelihara burung, terdapat rantai ekonomi yang melibatkan banyak pelaku. Mulai dari peternak, pedagang burung, pembuat sangkar, pengrajin gantangan, produsen pakan, penjual perlengkapan, hingga penyelenggara lomba.

Ada pula sektor pendukung seperti transportasi, kuliner, penginapan, dokumentasi, dan jasa promosi.

Sebuah kegiatan kontes burung, misalnya, bukan hanya mempertemukan penghobi. Kegiatan tersebut dapat menggerakkan transaksi ekonomi dalam skala lokal. Di sinilah hobi dapat menjadi bagian dari ekonomi kerakyatan.

Ekonomi komunitas memiliki karakteristik yang menarik karena tumbuh dari kebutuhan dan kesenangan bersama. Aktivitas ekonomi tidak selalu dimulai dari perusahaan besar atau investasi berskala nasional. Ia dapat tumbuh dari jaringan kepercayaan, hubungan antarpenghobi, dan kebutuhan pasar yang terbentuk secara organik.

Fenomena ini semakin penting ketika masyarakat menghadapi tantangan ekonomi berupa ketidakpastian pekerjaan, tekanan daya beli, dan persaingan usaha.

Komunitas dapat menjadi jaringan ekonomi alternatif. Seseorang yang awalnya sekadar memelihara burung mungkin kemudian mengembangkan usaha pakan. Orang lain membuat sangkar, membuka peternakan, atau menjadi penyelenggara kegiatan.

Namun, potensi ekonomi tersebut membutuhkan tata kelola yang baik. Komunitas perlu membangun ekosistem yang sehat, menghindari praktik perdagangan yang tidak transparan, serta menjaga agar persaingan tidak merusak persaudaraan.

Jangan sampai hobi yang semestinya menjadi sumber kebahagiaan justru berubah menjadi arena konflik akibat orientasi ekonomi yang berlebihan.

Makna Kebahagiaan

Dalam kehidupan komunitas perkutut, terdapat pula dimensi prestise dan pengakuan sosial.

Burung dengan kualitas suara tertentu, silsilah atau trah yang dikenal, serta prestasi dalam kontes dapat memiliki nilai ekonomi dan simbolik yang tinggi.

Pemilik burung tidak hanya memperoleh kepuasan karena memiliki sesuatu yang disukai, tetapi juga mendapatkan pengakuan dari sesama penghobi.

Dalam perspektif sosiologi Pierre Bourdieu, fenomena ini dapat dibaca melalui konsep symbolic capital (modal simbolik). Modal simbolik merupakan bentuk pengakuan, kehormatan, reputasi, dan prestise yang diperoleh seseorang dalam suatu lingkungan sosial.

Dalam komunitas Kung Mania, pengetahuan tentang karakter burung, kemampuan merawat, pengalaman beternak, hingga prestasi dalam kontes dapat menjadi sumber pengakuan. Seseorang mungkin tidak dikenal karena jabatan atau kekayaan di luar komunitas, tetapi dihormati karena pengetahuan dan pengalamannya tentang perkutut.

Ini merupakan dinamika sosial yang menarik. Komunitas menciptakan ukuran penghargaan tersendiri yang tidak selalu sama dengan ukuran status dalam masyarakat umum. Akan tetapi, ada hal yang perlu dijaga.

Kompetisi seharusnya menjadi sarana meningkatkan kualitas, bukan menciptakan kesenjangan dan kesombongan. Harga burung yang tinggi tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran kebahagiaan. Sebab, esensi hobi sesungguhnya terletak pada proses menikmati, merawat, belajar, dan berbagi.

Burung yang mahal belum tentu menghadirkan persaudaraan yang lebih baik. Sebaliknya, seekor perkutut sederhana dapat menjadi sumber kebahagiaan ketika dirawat dengan ketulusan.

Potret Masyarakat Modern

Salah satu persoalan masyarakat modern yang sering luput dari perhatian adalah kesepian sosial. Kemajuan teknologi memang membuat manusia semakin mudah terhubung. Namun, keterhubungan digital tidak selalu berarti kedekatan emosional.

Orang dapat memiliki ratusan bahkan ribuan teman di media sosial, tetapi belum tentu memiliki seseorang yang bisa diajak berbicara secara tulus ketika menghadapi persoalan kehidupan.

Dalam konteks ini, komunitas hobi memberikan sesuatu yang tidak sederhana: rasa memiliki.

Ketika seseorang datang ke tempat berkumpul para Kung Mania, ia tidak sekadar membawa burung yang dipeliharanya. Ia juga membawa cerita, pengalaman, persoalan keluarga, kegembiraan, bahkan beban kehidupan.

Di antara suara anggungan perkutut dan obrolan ringan, tercipta ruang interaksi yang membuat orang merasa menjadi bagian dari sesuatu.

Inilah salah satu fungsi penting komunitas dalam masyarakat kontemporer.

Komunitas tidak harus selalu menjadi organisasi formal yang memiliki struktur rumit. Ia dapat tumbuh dari kesamaan minat, kemudian berkembang menjadi jaringan sosial yang saling membantu. Namun, agar keberadaannya memiliki dampak lebih luas, komunitas harus memiliki kesadaran sosial.

Kegiatan komunitas dapat diarahkan pada aksi sosial, pemberdayaan ekonomi anggota, edukasi generasi muda, pelestarian budaya, dan kepedulian terhadap lingkungan. Dengan begitu, komunitas tidak hanya sibuk mengurus kepentingan internal, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat.

Keberadaan Kung Mania mengajarkan sesuatu yang sederhana tetapi penting: manusia membutuhkan ruang untuk menikmati kehidupan di luar rutinitas pekerjaan, persaingan ekonomi, dan pertarungan kepentingan politik.

Di tengah kehidupan yang semakin kompetitif, masyarakat membutuhkan ruang yang memungkinkan orang kembali menjadi manusia biasa. Tidak selalu harus berbicara tentang jabatan, kekuasaan, proyek, keuntungan, atau pilihan politik.

Terkadang, berbicara tentang suara burung, kualitas sangkar, atau pengalaman merawat perkutut justru menghadirkan kebahagiaan yang lebih jujur.

Namun, komunitas juga tidak boleh terjebak menjadi kelompok eksklusif yang hanya merayakan kesenangan internal. Ada tanggung jawab kebudayaan, sosial, dan lingkungan yang perlu diperhatikan. Pelestarian burung harus mengedepankan etika, kesejahteraan satwa, dan praktik penangkaran yang bertanggung jawab.

Tradisi harus dirawat tanpa mengabaikan perkembangan pengetahuan dan kesadaran ekologis.

Kung Mania dapat menjadi contoh bagaimana hobi berkembang menjadi kekuatan sosial. Ia dapat mempertemukan manusia lintas profesi, memperkuat solidaritas, menggerakkan ekonomi kecil, sekaligus menjaga kesinambungan kebudayaan.

Dalam situasi politik yang kerap gaduh, ekonomi yang penuh tantangan, dan kehidupan sosial yang semakin individualistis, komunitas seperti ini memiliki arti penting.

Mungkin kita perlu belajar dari perkutut. Ia tidak membutuhkan panggung politik untuk menghasilkan suara yang didengarkan. Ia tidak membutuhkan perdebatan panjang untuk menghadirkan ketenangan.

Anggungannya hadir dengan irama yang teratur, dinikmati oleh siapa saja yang bersedia mendengarkan. Pada titik tertentu, masyarakat Indonesia juga membutuhkan irama semacam itu: kehidupan yang tidak selalu dipenuhi pertentangan, tetapi memberi ruang bagi dialog, kebersamaan, dan saling menghargai.

Sebab, ukuran kemajuan sebuah bangsa bukan hanya pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, atau stabilitas politik. Kemajuan juga tercermin dari kemampuan masyarakat menjaga persaudaraan, merawat kebudayaan, dan menemukan kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari.

Barangkali, di balik suara anggungan perkutut yang dinikmati para Kung Mania, tersimpan pesan kebudayaan yang patut direnungkan: bahwa kehidupan yang baik bukan hanya tentang siapa yang paling tinggi terbangnya, paling mahal burungnya, atau paling keras suaranya, melainkan tentang bagaimana kita tetap bisa hidup berdampingan, saling menghargai, dan menjaga harmoni.

Akhirnya, yang perlu terus dirawat bukan hanya perkutut dan hobinya, tetapi juga kemanusiaan dan persaudaraan di antara para pemiliknya. ***

Penulis: Adi Harnowo, peminat perkutut dan dinamika sosial kemasyarakatan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.