Yo Jawa Timur, Yo Dangdut!

AKURAT.CO, Dangdut di Jawa Timur bukan sekadar musik hiburan. Ia telah tumbuh menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat, terutama kalangan akar rumput. Dari panggung hajatan, perayaan desa, pasar malam, hingga konser terbuka, dangdut selalu menemukan penontonnya.
Bahkan, dalam perkembangannya, musik ini tidak hanya melahirkan banyak orkes Melayu (OM), tetapi juga menghadirkan generasi biduan muda yang memiliki penggemar sendiri.
Fenomena tersebut menarik dicermati. Di tengah perubahan selera musik, gempuran budaya populer Korea, musik Barat, hingga industri hiburan digital, dangdut justru tetap memiliki ruang hidup yang kuat.
Jawa Timur menjadi salah satu wilayah yang memperlihatkan dinamika itu secara nyata.
Nama-nama orkes Melayu seperti New Pallapa, Monata, Adella, Sera, dan berbagai kelompok musik lainnya menjadi bagian dari ekosistem hiburan masyarakat. Mereka bukan hanya kelompok pemusik yang berpindah dari satu panggung ke panggung lain.
Mereka telah membangun identitas, komunitas penggemar, bahkan jaringan ekonomi dan budaya yang cukup luas.
Di sisi lain, panggung-panggung tersebut menjadi ruang lahirnya biduan muda. Mereka datang dengan karakter vokal, penampilan, gaya komunikasi, dan basis penggemar yang berbeda-beda.
Sebagian memulai karier dari panggung lokal, kemudian dikenal lebih luas melalui rekaman pertunjukan dan media sosial.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa dangdut memiliki kekuatan yang tidak selalu dimiliki industri musik arus utama: kedekatan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Untuk memahami fenomena ini, kita bisa menggunakan pendekatan sosiologi budaya. Salah satu konsep yang relevan adalah popular culture (budaya populer). Konsep ini menjelaskan bahwa kebudayaan tidak hanya lahir dari ruang-ruang elite, pendidikan tinggi, atau institusi seni formal. Kebudayaan juga tumbuh dari kebiasaan, kesenangan, dan aktivitas masyarakat sehari-hari.
Dangdut koplo merupakan contoh nyata. Musik ini tidak harus dinikmati melalui gedung pertunjukan mewah atau konser berharga mahal. Masyarakat bisa menikmatinya di lapangan desa, halaman rumah orang yang sedang punya hajatan, atau panggung hiburan dalam perayaan tertentu.
Karakter musiknya pun dekat dengan selera masyarakat. Irama kendang yang cepat, perpaduan berbagai genre, lirik berbahasa Jawa, serta interaksi langsung antara penyanyi dan penonton menciptakan suasana yang cair. Penonton bukan sekadar pendengar, tetapi menjadi bagian dari pertunjukan.
Peneliti musik Andrew N. Weintraub dalam kajiannya The Sound and Spectacle of Dangdut Koplo: Genre and Counter-Genre in East Java, Indonesia (2013) menjelaskan bahwa dangdut koplo berkembang di Jawa Timur sejak pertengahan 1990-an.
Kemunculannya berkaitan dengan kreativitas musik lokal, perubahan politik dan ekonomi, perkembangan teknologi, serta desentralisasi industri musik.
Dengan kata lain, dangdut koplo bukan sekadar perubahan irama dari dangdut sebelumnya. Ia merupakan hasil kreativitas masyarakat dalam membangun identitas hiburan sendiri.
Perjalanan Inul Daratista dari panggung hajatan menuju panggung nasional menjadi salah satu penanda penting. Setelah itu, muncul nama-nama seperti Via Vallen, Nella Kharisma, Tasya Rosmala, Happy Asmara, Difarina Indra, Shinta Arsinta, Niken Salindry, Amanda Savana, Silvy Kumalasari, dan sederet penyanyi lain yang ikut memperluas penerimaan dangdut koplo.
Musik yang sebelumnya sering dipandang sebelah mata perlahan memperoleh tempat dalam industri hiburan nasional.
Ekonomi Kreatif
Hal menarik berikutnya adalah tumbuhnya berbagai orkes melayu. New Pallapa, Monata, Adella, Sera, Sonata, dan kelompok-kelompok lainnya memperlihatkan bahwa dangdut tidak bergantung pada satu perusahaan rekaman atau satu pusat industri musik.
Mereka membangun jaringan produksi dan pertunjukan sendiri. Ada pemain musik, penyanyi, pengelola panggung, penyelenggara acara, penyedia tata suara, penyewaan peralatan, pedagang makanan, hingga pelaku usaha kecil yang memperoleh manfaat dari setiap kegiatan.
Di sinilah kita bisa menggunakan konsep ekonomi kreatif. Musik tidak hanya menghasilkan karya seni, tetapi juga menciptakan perputaran ekonomi.
Satu pertunjukan dangdut dapat melibatkan banyak orang dan membuka kesempatan kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Bagi masyarakat desa, kehadiran orkes Melayu bahkan memiliki arti lebih luas. Hajatan pernikahan, khitanan, perayaan kemerdekaan, atau kegiatan bersih desa menjadi ruang pertemuan sosial. Musik menjadi daya tarik yang mempertemukan warga dari berbagai latar belakang.
Fenomena ini juga dapat dibaca melalui konsep social capital (modal sosial). Dalam pemikiran sosiolog Robert Putnam, modal sosial tumbuh melalui jaringan, kepercayaan, dan hubungan timbal balik antarmanusia.
Pertunjukan dangdut memungkinkan orang berkumpul, berinteraksi, membangun pertemanan, dan memperkuat hubungan sosial. Orang datang bukan semata-mata untuk mendengarkan musik, melainkan juga untuk bertemu teman, tetangga, saudara, bahkan kenalan baru.
Dengan demikian, panggung dangdut sesungguhnya memiliki fungsi sosial. Ia menjadi ruang perjumpaan masyarakat yang mungkin semakin jarang ditemukan di tengah kehidupan modern yang individualistis.
Lahirnya banyak biduan muda juga merupakan fenomena yang patut diperhatikan. Mereka tidak selalu berasal dari keluarga seniman atau memiliki akses ke industri musik besar.
Sebagian tumbuh melalui panggung-panggung lokal, mulai dikenal dari satu daerah, kemudian memperoleh kesempatan tampil di wilayah yang lebih luas.
Dalam perspektif sosiologi, fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep mobilitas sosial. Musik dangdut membuka peluang bagi seseorang untuk mengubah posisi sosial dan ekonominya melalui bakat, kerja, popularitas, serta jaringan profesional.
Panggung lokal menjadi semacam sekolah informal. Seorang biduan belajar mengolah suara, menguasai panggung, membangun komunikasi dengan penonton, membaca suasana, dan menciptakan karakter pertunjukan.
Tidak semua orang harus melalui jalur pendidikan seni formal untuk mendapatkan kesempatan berkarier. Dalam industri dangdut, pengalaman langsung seringkali menjadi modal penting.
Namun, keberhasilan seorang biduan tidak hanya ditentukan kemampuan bernyanyi. Penampilan, kepribadian, kemampuan berinteraksi, konsistensi, serta kecakapan memanfaatkan media sosial turut menentukan popularitas.
Di sinilah teori Pierre Bourdieu tentang modal budaya dan modal sosial menjadi relevan. Bourdieu menjelaskan bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan modal ekonomi, tetapi juga pengetahuan, keterampilan, pengakuan, dan jaringan pergaulan.
Biduan yang memiliki kemampuan vokal baik, karakter kuat, dan jaringan pertunjukan luas memiliki peluang lebih besar untuk berkembang.
Ketika popularitas itu semakin tinggi, ia dapat berubah menjadi modal ekonomi melalui honor pertunjukan, kerja sama komersial, dan berbagai aktivitas profesional lainnya.
Tentu saja, kita tidak boleh mengabaikan persoalan kerentanan pekerja seni, khususnya perempuan. Biduan kerap menghadapi penilaian yang terlalu bertumpu pada penampilan fisik, bahkan tidak jarang menjadi sasaran stereotip dan objektifikasi.
Karena itu, penting melihat biduan bukan semata-mata sebagai objek hiburan. Mereka adalah pekerja seni yang memiliki keterampilan, daya tawar, kreativitas, dan hak untuk memperoleh perlindungan serta penghargaan secara profesional.
Industri popularitas
Perkembangan teknologi digital semakin mempercepat penyebaran dangdut. Dahulu, popularitas seorang penyanyi sangat bergantung pada frekuensi tampil di panggung atau kesempatan masuk dapur rekaman.
Sekarang, satu potongan video pertunjukan yang menarik bisa menyebar luas melalui YouTube, TikTok, Facebook, Instagram dan platform media sosial lain.
Perubahan ini dapat dijelaskan melalui konsep disrupsi digital. Teknologi telah mengubah cara musik diproduksi, dipasarkan, dan dikonsumsi masyarakat. Orkes Melayu tidak lagi hanya menjual pertunjukan langsung.
Mereka juga membangun kanal digital, mendokumentasikan penampilan, dan mengembangkan komunitas penggemar.
Seorang biduan yang tampil di panggung daerah pun berpeluang dikenal oleh penonton dari luar daerah, bahkan luar negeri.
Studi Citra Aryandari dalam Mudra dipublish dalam Jurnal Seni Budaya (2026) menunjukkan bahwa teknologi digital dan platform seperti TikTok, YouTube, serta Instagram ikut memperluas penyebaran dangdut koplo.
Format musik yang berkembang di Jawa Timur bahkan menjadi salah satu model musik populer yang diadaptasi di berbagai wilayah Indonesia.
Ini membuktikan bahwa pusat pertumbuhan budaya populer tidak harus berada di Jakarta. Daerah memiliki kemampuan melahirkan tren, membangun pasar, dan memengaruhi selera nasional.
Ada satu hal yang perlu diluruskan dalam memandang dangdut. Selama bertahun-tahun, musik ini kerap dilekatkan dengan label hiburan kelas bawah. Seolah-olah selera masyarakat yang menikmati dangdut memiliki derajat lebih rendah dibandingkan mereka yang menyukai musik pop, jazz, atau musik lainnya.
Cara pandang semacam ini sesungguhnya memperlihatkan adanya persoalan stratifikasi sosial dalam kebudayaan.
Teori Pierre Bourdieu tentang distinction (pembedaan selera) menjelaskan bahwa selera seni seringkali digunakan sebagai penanda kelas sosial.
Musik tertentu dianggap lebih bergengsi karena diasosiasikan dengan kelompok masyarakat tertentu. Sementara musik yang dekat dengan rakyat sering dianggap kurang bernilai.
Padahal, ukuran kualitas kebudayaan tidak semestinya ditentukan oleh siapa yang menikmatinya atau berapa harga tiket pertunjukannya.
Dangdut memiliki sejarah, kreativitas, perkembangan musikal, dan basis sosial yang kuat. Ia merupakan bagian dari kekayaan budaya populer Indonesia.
Bahkan, penelitian Defi Sulistiana yang diterbitkan dalam Repertoar Journal (2025) memperlihatkan bahwa dangdut koplo di lingkungan masyarakat desa juga berkaitan dengan hiburan dan stratifikasi sosial. Artinya, musik ini memiliki posisi yang menarik dalam kehidupan dan hubungan sosial masyarakat.
Perkembangan dangdut bukan tanpa persoalan. Persaingan antarkelompok musik, standar profesionalisme, perlindungan pekerja seni, hingga persoalan kualitas pertunjukan perlu mendapatkan perhatian.
Penyelenggaraan hiburan juga harus tetap memperhatikan ketertiban, keamanan, kesopanan, dan kenyamanan masyarakat. Kebebasan berekspresi tidak berarti mengabaikan tanggung jawab sosial.
Namun, persoalan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk merendahkan dangdut atau meminggirkan para pelakunya.
Pemerintah daerah, komunitas seni, dan pelaku industri kreatif perlu melihat orkes Melayu sebagai bagian dari potensi ekonomi dan kebudayaan daerah.
Pembinaan manajemen pertunjukan, perlindungan pekerja seni, pengembangan kapasitas musisi muda, hingga dokumentasi musik lokal bisa menjadi langkah strategis.
Pelajaran penting yang bisa dipetik bahwa fenomena dangdut di Jawa Timur memberikan pelajaran penting tentang bagaimana kebudayaan tumbuh dari bawah. Masyarakat tidak selalu menunggu industri besar untuk menentukan jenis hiburan yang mereka sukai.
Mereka bisa membangun ekosistemnya sendiri, melahirkan bintang-bintang baru, dan menciptakan ruang ekonomi melalui kreativitas.
Dangdut bukan sekadar suara kendang, goyangan, atau keramaian panggung. Di baliknya ada cerita tentang mobilitas sosial, solidaritas, identitas lokal, kesempatan kerja, dan demokratisasi kebudayaan.
Ketika seorang biduan muda naik panggung di sebuah desa, ketika sebuah orkes melayu berkeliling dari satu daerah ke daerah lain, sesungguhnya sedang berlangsung sebuah proses sosial dan ekonomi yang menarik.
Mungkin inilah kekuatan terbesar dangdut: ia tidak pernah terlalu jauh dari kehidupan rakyat. Musik ini tumbuh bersama masyarakat, menghibur mereka, sekaligus memberikan kesempatan bagi banyak orang untuk mencari penghidupan dan mengubah masa depan.
Selama masyarakat masih membutuhkan ruang untuk bergembira, berkumpul, dan merayakan kehidupan, selama itu pula dangdut akan menemukan panggungnya. (*)
Penulis: Adi Harnowo, Penikmat Dangdut dan Dinamika Sosial Kemasyarakatan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Mazda Merah Terbalik di Tol Gempas
- 2Remaja Tewas Dibacok di Tengah Jalan Raya Probolinggo, Motor dan Barang Berharga Masih Utuh
- 3Tujuh Polisi yang Bekuk Tiga Anggota DPRD Gerindra Saat Pesta Narkoba Dimutasi dan Diperiksa Propam
- 4Anggota TNI AL Meninggal Ditabrak Truk di Jalur Pantura Pasuruan
- 5Terpental 100 Meter, Remaja Pengendara Beat Tewas Tertabrak Kereta Saat Beli Pertalite di SPBU
- 6PPPK Paruh Waktu Dishub Probolinggo Setubuhi Siswi SMA, Modusnya Diajak Mabuk
- 7Dari Kicau Perkutut Membaca Wajah Masyarakat Indonesia
- 8Sepekan Operasi Patuh di Kota Pasuruan, 3.904 Pelanggar Terjaring Razia
- 9Waspada, Jalur Lumajang-Malang di Ampelgading Tertutup Longsor
- 10Diterjang Lahar Semeru, Akses Satu-satunya Dusun Sumberlangsep Lumajang Lumpuh




