Penjualan Tusuk Sate Lesu Jelang Iduladha, Banyak Pengrajin Beralih Produksi Rangka Layangan

AKURAT.CO, Penjualan tusuk sate di Kota Probolinggo masih lesu sepuluh hari jenjelang Hari Raya Iduladha. Banyak pengrajin beralih memproduksi rangka layangan.
As’ad, pengrajin tusuk sate di kawasan Jalan Priksan, Kelurahan Kebonsari Wetan, Kota Probolinggo, mengatakan permintaan memang mengalami kenaikan menjelang Iduladha. Namun jumlahnya tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau momen kurban biasanya permintaan naik tinggi. Sekarang ada kenaikan, tapi tidak terlalu terasa. Kondisi ekonomi masyarakat memang sedang sulit,” ujarnya, Minggu (17/5/2026).
Iduladha selama ini menjadi momentum paling dinanti pengrajin tusuk sate. Sebab, kebutuhan tusuk sate meningkat tajam seiring banyaknya masyarakat yang mengolah daging kurban menjadi sate untuk konsumsi keluarga maupun dibagikan kepada warga sekitar.
As’ad mengaku biasanya mampu memasok hingga 1,3 ton tusuk sate per minggu untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal hingga Bali. Kini jumlah itu turun drastis menjadi sekitar 7,5 kuintal per minggu.
Tak hanya volume pengiriman yang menurun, frekuensi pengambilan barang juga ikut berkurang. Jika sebelumnya distribusi dilakukan dua kali dalam sepekan, kini hanya sekali pengiriman.
“Kondisinya jauh berbeda dibanding tahun lalu,” katanya.
Di tengah permintaan yang melemah, para pengrajin harus menghadapi persoalan baru berupa kelangkaan bahan baku lidi bambu. Banyak pengrajin di sejumlah daerah memilih memproduksi rangka layang-layang karena dianggap lebih menguntungkan dibanding membuat tusuk sate. Hal itu membuat bahan baku biting semakin sulit didapat.
“Perajin sekarang banyak yang beralih bikin layangan karena keuntungannya lebih besar. Kalau bikin sujen untungnya kecil,” jelas As’ad.
As'ad mengatakan harga jual tusuk sate di pasaran nyaris tidak bergerak selama belasan tahun terakhir. Hingga kini, harga di tingkat pengepul masih bertahan di kisaran Rp10 ribu hingga Rp12 ribu per kilogram.
"Padahal biaya produksi terus mengalami kenaikan. Harga bambu, plastik kemasan hingga ongkos produksi lainnya naik berkali-kali lipat," keluhnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Korban Meninggal Dalam Upaya Pemadaman Kebakaran Bromo Bertambah Jadi 6 Orang
- 2Tilang Manual Diberlakukan Saat Operasi Patuh Semeru 2026
- 3Kebakaran Kawasan Gunung Arjuno-Welirang Masih Ada di Belasan Titik
- 430 Perusahaan Sediakan 1.500 Lowongan Kerja di Job Fair Kota Pasuruan 2026
- 5Mantan Sekretaris DPRD Jember Jadi Tersangka Korupsi Anggaran Mamin
- 6Fasilitas Pengolahan Ban Bekas di Mojokerto Kebakaran, Kerugian Ditaksir Rp 2,5 M
- 7Ulah ODGJ di Lamongan Kibarkan Bendera Israel Bikin Resah Warga
- 8Jet Tempur F-16 dan Super Tucano Uji Coba Pendaratan dan Lepas Landas di Tol Paspro
- 91 Ton Sampah Diangkat dari Sungai Gembong Pasuruan Setiap Hari
- 10Polres Pasuruan Bongkar Bisnis LPG Ilegal Omzet Miliaran








